[Kelima, Memotivasi Diri untuk Mau Membaca dengan Strategi Meraih “Al-Akram”] Bagaimana Anda Mengatasi Rasa Bosan Membaca? (F): The Man Who Loved Book To Much (20)

Kelima, Memotivasi Diri untuk Mau Membaca dengan Strategi Meraih “Al-Akram”] Bagaimana Anda Mengatasi Rasa Bosan Membaca? (F): The Man Who Loved Book To Much (20)
Oleh Hernowo
 
 
Dalam buku Tafsir Al-Mishbah, Ustad Quraish Shihab menuliskan tafsir atas ayat “Iqra’ wa rabbukal-akram”—khususnya terkait dengan kata “al-akram”—demikian, “Kataal-akram yang berbentuk superlatif (bentuk kata yang menyatakan paling atau ter-) adalah satu-satunya ayat di dalam Al-Quran yang menyifati Tuhan dalam bentuk tersebut. Ini mengandung pengertian bahwa Tuhan dapat menganugerahkan puncak dari segala yang terpuji bagi setiap hamba-Nyaterutama dalam kaitannya dengan perintah membaca” (lihat lebih lengkap dalam Muhammad Quraish Shihab, Tafsir Al-Mishbah, Penerbit Lentera Hati, Jakarta, 2003, h. 399).
 
Apa yang disampaikan oleh Ustad Quraish tersebut, bagi saya, merupakan kunci penting untuk memahami mengapa Tuhan menggunakan kata “membaca” (iqra’) sebagai kata untuk mengawali turunnya wahyu yang pertama kepada Nabi Muhammad Saw. Wahyu (yang juga merupakan “perintah”) pertama-Nya itu, “Bacalah dengan menyebut nama Tuhanmu Yang Menciptakan (semua makhluk)”, kemudian disusul dengan ayat ketiga—“Bacalah (secara berulang-ulang) dan Tuhanmu yang Maha Pemurah”—yang, sebagaimana ditafsirkan oleh Ustad Quraish, merupakan janji Tuhan kepada hamba-hamba-Nya, yang mau dan mampu membaca, untuk menganugerahi mereka “puncak dari segala yang terpuji” (al-akram).
 
Tak mudah untuk memahami (dan merasakan) apa itu sesungguhnya “puncak dari segala yang terpuji” (al-akram). Maksud saya, mungkin dengan membaca tafsiran dan penjelasan Ustad Quraish, kita lantas tahu apa makna “al-akram”. Namun, apakah kita dapat merasakan secara nyata wujud ”al-akram” yang kemungkinan besar dapat hadir ke dalam diri kita ketika kita membaca (menjalankan perintah-pertama-Nya)? Tentu, sekali lagi, hal ini bukan persoalan yang gampang untuk kita dudukkan. Bisa saja saya mengaku telah mendapatkan “al-akram”—karena saya telah mau membaca—dan kemudian bercerita ini-itu. Namun, apakah cerita saya itu benar dan tepat?
 
Oleh karena itu, dalam kesempatan yang baik ini, saya ingin mengartikan—atau, lebih tepat, memosisikan—“al-akram” tersebut sebagai motivator membaca saya. Apabila saya sedang merasakan kebosanan membaca dan, bahkan, kemalasan membaca, saya kemudian mengingat dan menjadikan “al-akram” sebagai pembangkit motivasi membaca saya. Adakah pembangkit motivasi yang melebihi kedahsyatan “al-akram”? Tetapi, mungkinkah itu? Bagi saya, sangat mungkin! Saya ingin terus dapat membaca—semoga kegiatan membaca saya sesuai dengan perintah-pertama-Nya—dengan harapan Allah, kapan pun itu, dapat menganugerahi saya “al-akram”—meskipun saya tidak tahu wujud-nyatanya seperti apa.
 
Saya yakin apabila saya terus diberi kemudahan, kelancaran, dan kesenangan untuk dapat terus membaca setiap hari—meskipun membacanya secara “ngemil”—saya sesungguhnya (mohon maaf) mungkin telah berharap sangat untuk mendapatkan “janji” Tuhan tersebut sebagaimana yang ditafsirkan oleh Ustad Quraish. Betapa sangat menyenangkan dan membahagiakan dapat berbicara dan membahas persoalan yang tak mudah terkait dengan “iqra’” dan “al-akram” ini. Membicarakan “iqra’” dan “al-akram” saja sudah begitu menyenangkan dan membahagiakan saya, apalagi jika saya dapat menjalankan perintah-pertama-Nya (“iqra’”) secara benar (sesuai kehendak-Nya) dan akhirnya, entah kapan, benar-benar memperoleh “janji”-Nya yang tercantum dalam ayat ketiga Surah Al-‘Alaq itu. Insya Allah.[]

Sumber : http://groups.yahoo.com/group/ikatanguruindonesia/message/50706

Comments