Para Pemilik Kebun

Dharwan adalah desa tua yang sangat subur di Yaman. Di desa ini hidup seorang lelaki saleh yang baik agama dan akhlaknya. Allah telah memberinya kekayaan yang melimpah, nama baik di kalangan manusia, dan kedudukan yang terhormat, sehingga diangkat menjadi kepala desa dan pemimpin yang berpengaruh.


Ia memiliki tanah pertanian yang diolahnya dengan kerja kerasnya menjadi kebun yang rindang. Pepohonannya tinggi, buah-buahannya dekat, dan bunga-bunganya harum semerbak. Di sepanjang areal perkebunan mengalir air yang jernih dan tawar, sehingga suara gemericik airnya menambah suasananya terasa makin nyaman dan teduh.


Setiap kali usai menunaikan shalat subuh, pemilik kebun yang sudah tua ini berdoa kepada Allah dan membaca wiridnya, lalu mengambil tongkat dan berjalan melihat tanaman dan kebunnya. Ia memasuki kebun dengan pelan dan tenang seraya mengangguk-anggukkan kepala dan mengakui nikmat Allah pada dirinya. Karena itu, ia tidak pernah berhenti bersyukur dan bertasbih memuji-Nya.


Demikianlah ia menjalani kehidupannya setiap hari dan sepanjang hidupnya.


Ketika musim panen tiba, ia bekerja -sekalipun sudah tua- bersama tukang kebun dan para pekerja untuk memetik buah. Sebelum para pedagang datang untuk membeli hasil panennya, ia menyisihkan bagian tertentu untuk diberikan kepada orang-orang yang memerlukan dan membagikannya kepada orang-orang fakir-miskin, dengan penuh kedermawanan, wajah ceria, dan lisan yang selalu memuji dan bersyukur.


Ia memiliki tiga orang anak. Anak pertama bernama Haris, anak kedua bernama Saleh, dan anak ketiga bernama Alqamah. Mereka sudah berusia remaja dan dewasa.


Anak yang terbesar dan terkecil selalu mencela bapaknya karena kebaikan dan kedermawanannya. Keduanya selalu mengatakan: Bapak ini selalu berinfaq dan memberi orang-orang miskin sehingga mengurangi hak dan rezki kami, dan menyamakan kami dengan mereka. Jika engkau terus melakukan hal ini maka tidak alan tersisa harta dan hasil panen untuk kami, sehingga kami akan menjadi orang-orang miskin sepeninggalmu dan meminta-minta kepada orang lain.


Sedangkan anak yang kedua, Saleh, memiliki akhlak dan kesalehan seperti bapaknya. Ia selalu mendukung apa yang dilakukan bapaknya.


Ia membela bapaknya di hadapan kedua saudaranya dengan mengatakan:


Kalian berdua salah dalam menilai dan beranggapan. Harta yang ingin kalian kuasai itu bukan milikku dan bukan pula milik kalian berdua. Kebun ini bukan milikku dan bukan pula milik kalian berdua. Harta ini milik Allah. Allah menguasakan dan menitipkannya kepada kita, sehingga kita harus menginfakkannya untuk kebaikan dan kemanfaatan makhluk-Nya. Di dalam harta ini ada hak orang-orang fakir-miskin dan orang-orang yang membutuhkan. Setelah itu, sisanya baru untuk kita. Dengan cara demikian harta ini akan bersih, berkembang dan diberkahi Allah. Jalan inilah yang saya tempuh dan saya percayai. Saya tidak akan mengubah kebiasaan ini karena saya takut Allah akan mengubah apa yang selama ini saya nikmati.


Musim demi musim pun berlalu. Menjelang panen sang ayah jatuh sakit dan tidak bisa beraktivitas karena usia tua. Karena itu, ketiga anaknya menggantikannya dalam mengurusi panen kebunnya. Seperti biasanya, orang-orang miskin berkumpul di kebun menunggu jatah pemberian mereka. Tetapi Haris dan Alqamah menolak mereka, lalu mengangkut hasil panen dan membawanya ke rumah.


Tidak lama kemudian bapak mereka yang saleh itu meninggal dunia, karena penyakitnya makin para hingga menghembuskan nafasnya yang terakhir.


Di musim panen berikutnya, anak-anaknya berembug untuk memanen. Mereka bersepakat tidak mengijinkan seorang pun dari kalangan fakir-miskin untuk memasuki kebun, meski pendapat ini ditentang oleh Saleh. Mereka juga sepakat untuk datang ke kebun dini hari, pada hari berikutnya, dan memanen buaha-buahan sebelum matahari terbit dan sebelum orang-orang berkumpul.


“Ketika mereka bersumpah bahwa mereka sungguh-sungguh akan memetik (hasil)nya di pagi hari dan mereka tidak menyisihkan (hak fakir-miskin)”. (al-Qalam: 17-18)


Allah mengetahui niat mereka yang tidak baik, jiwa mereka yang busuk, dan kesepakatan mereka untuk tidak memberi orang-orang miskin dan mengingkari hak orang-orang yang meminta dan membutuhkan. Kemudian Allah mengirin bencana ke kebun mereka sehingga menghancurkan pepohonannya, menghanguskan buah-buahannya, dan mengeringkan daun-daun dan dahannya.


Ketika sampai di kebun dan berdiri di pintunya, mereka terkejut bertanya-tanya: Apakah ini kebun kita? Kemarena kita tinggalkan dalam keadaan rindang dan berbuah. Ini bukan kebun kita. Kita tersesat jalan..


Saleh berdiri dengan tenang, mengamati dan mengambil pelajaran dari peristiwa ini lalu berkata:


Ini kebun kita wahai saudara-saudaraku. Kalian dihalangi dari memperoleh hasilnya sebelum kalian menghalangi orang-orang fakir-miskin. Kalian dibalas dan dihukum atas rencana jahat dan jiwa busuk kalian, padahal kemaren saya telah menasehati kalian.
“Bukankah aku telah mengatakan kepadamu, hendaklah kamu bertasbih (kepada Tuhanmu)”. (al-Qalam: 28) Tetapi kalian menolak dan menjadi orang-orang yang melampaui batas dan zalim. “Mereka mengucapkan: “Maha Suci Tuhan kami, sesungguhnya kami adalah orang-orang yang zalim”. (al-Qalam: 30)


Tanpa berfikir panjang, mereka mengakui kesalahan dan berkata:


“Aduhai celakalah kita, sesungguhnya kita ini adalah orang-orang yang melampaui batas”. (al-Qalam: 31)


Mereka telah menipu diri mereka sendiri lalu berkata:


“Mudah-mudahan Tuhan kita memberikan ganti kepada kita dengan (kebun) yang lebih baik darpada itu, sesungguhnya kita mengharapkan ampunan dari Tuhan kita”. Seperti itulah siksa ( dunia). Dan sesungguhnya siksa akhirat lebih besar jika mereka mengetahui”. (al-Qalam: 32-33)


Lihat: Qashash al-Quran, Quthb.


Diterjemahkan dari “Zad al-Murabbin”, Ibrahim Badr Syihab al-Khalidi. Oleh Aunur Rafiq Saleh Tamhid.
Comments